Jumat, 27 Juli 2018

Log Sampah Pribadi

1. Bungkus kertas untuk sayuran

udah, itu aja.

Laporan Keuangan Pribadi

- Tak ada pengeluaran -
yey.

Laporan Keuangan Regu De Dublob

Laporan keuangan Regu Dublob

Belanja Sayur dan Bumbu dari rumah:
  • Ratri : Rp. 48.000
  • Anja : Rp.  25.000
  • Ceca : Rp. 17.000
  • Andini : Rp. 1.000
Total  : Rp. 130.000


Beli keperluan di Pulau :

Di P. Untung Jawa
  • Kelapa 2 : Rp. 40.000

Belanja di P. Pramuka
  • Bakso mentah 15 biji : Rp. 15.000 
  • Telur 8 butir : Rp. 20.000 
  • Air minum : Rp. 6.000 
  • Makan siang : Rp. 68.000 
Beli sarapan di pelabuhan P. Pramuka : Rp. 20.000

Total : Rp. 129.000

Total semua uang yang dipakai : Rp. 490.000

Jadi setiap orang dapat uang Rp. 98.000

Day 5: Bye Kepulauan Seribu!

Seperti biasa, pagi itu kami dibangunkan oleh Kaysan untuk subuhan. Hari itu aku benar-benar tak ingin bangun, karena anginnya sedang kencang dan itu membuatku menjadi mager. Bangun-bangun, Adinda langsung mengeluh padaku karena katanya aku menendang kepalanya. Tak kebayang bagaimana posisiku, tapi hal itu sebenarnya bisa terjadi sih.

Aku yang mengungsi di tenda Regu Putri Do-Young memutuskan untuk bangun dan mengecek reguku. Wah, ternyata Anja sudah bangun dan sudah mengamati komporku. Ternyata dia bingung cara mengeluarkan gas dari kompor itu. Melihatnya, membuatku geli karena cara dia mengamati kompor, seperti mengamati serangga yang sudah sangat langka. Setelah puas menertawakan Anja (aku ketua yang buruk), aku akhirnya membantunya mengeluarkan gas.

Untuk memulai hari, aku membereskan flysheet, matras, dan tali jemuran reguku. Dan hari itu aku harus melakukan kegiatan yang paling aku benci. Bukan hanya pulang, tapi harus packing ulang. ARGH sangat merepotkan! Karena buatku packing ulang sangat ribet, aku menguyel-uyel bajuku supaya paling tidak, semuanya bisa masuk kedalam carrierku.

Pelipatan tenda juga berjalan dengan baik. Regu De Dublob bisa melipat tenda tanpa bantuan lainnya! Yes! Agak ribet sih awalnya, tapi untung aku sudah latihan beberapa kali dirumah jadi di lapangan aku sudah mahir.

Setelah semua persiapan sudah beres, kami dijemput oleh sebuah kapal kayu yang besar. Kami berhenti sebentar di Pulau Pramuka untuk membeli sarapan, lalu meluncur lagi sampai Jakarta!

Awalnya, perjalan terasa sangat menyenangkan. Tapi tidak menyenangkan lagi setelah ombak di laut mulai besar. Kapalnya terasa oleng dan membuat penumpang didalam mabok. Aku, yang biasanya tidak mabok dalam perjalanan, sampai ingin muntah saat kapal kami melewati ombak. 'Aku ingin cepat-cepat sampai Jakarta' pikirku saat itu. Padahal tadinya nggak mau pulang.

Untungnya, kami semua selamat sampai Pelabuhan Kali Adem. Papa dan mama juga sudah menjemputku! Waaaah senang sekali aku rasanya setelah terlepas dari kapal itu.

Dan dengan ini, aku menyelesaikan perjalanan eksplorasiku tahun ini. Sungguh, dengan eksplorasi ini, aku mendapatkan banyak sekali pengalaman serta cerita-cerita baru. Aku juga berjanji akan datang ke pulau-pulau ini lagi, tapi... DENGAN KAMERA.



Kredit Foto: Kak Ali/TeamPixel.Id

Kamis, 26 Juli 2018

Day 4: Makan Pasir?!

Hari ini kami akan bersenang-senang!!! Untuk memulai keasyikan hari ini, kami harus memasak dulu untuk sarapan. Pertamanya, kami berniat untuk memasakn capcay. Tapi ternyata semua sayuran yang kami bawa dari rumah sudah basi! Satu-satunya sayuran yang selamat adalah kentang. Untungnya kami punya juru masak yang hebat dan kreatif yaitu Anjaaa!!! Anja dengan sigapnya mengolah kentang-kentang tadi, menjadi kentang goreng yang gurih dan lezat sekali. Aku mencoba membantu Anja menggoreng kentang, tapi tanganku malah kesiram minyak panas. Untung ada obatnya Kaysan, jadi tanganku baik-baik saja. Karena masakannya Anja enak sekali, hampir semua anak dari kelompok lain meminta kentang gorengnya.

Setelah sarapan, kami pergi jalan mengelilingi Pulau Karya. Pulau Karya bukanlah pulau yang besar, menggampangkan kami untuk mengelilingi pulaunya. Kami berjalan diatas pembatas yang terbuat dari semen, tapi pembatasnya putus-putus. Jadi kami harus turun ke laut sedikit, lalu naik keatas jalan lagi. Saat kami mau turun kedua kalinya, kami dipanggil oleh Kak Ali bahwa ada tempat yang enak untuk berenang. Dengan cepat, kami langsung putar balik dan mengikuti Kak Ali ke tempat yang dituju. Ternyata benar! Ada seperti kolam yang tidak begitu dalam, dan enak untuk berenang.


Awalnya aku memutuskan untuk tidak berenang karena akan merepotkan kalau bajuku basah dan lain-lain. Tapi godaan ini sangat berat! Air laut seperti melambai-lambai memanggilku untuk ikut berenang. 'Screw it! I'm going in', pikirku. Dengan cepat, aku langsung masuk kedalam air dan ikut berenang bersama teman-teman yang lain. Awalnya, aku masih pakai pelampung, tapi tidak betah. Aku langsung melepasnya dan menyelam. 'Ah aku kangen laut' pikirku yang memang sudah lama tidak berenang dan sudah lama tidak masuk kedalam air laut.

Kami membuat lomba berenang supaya lebih seru. Pertama, regu laki-laki melawan regu laki-laki. Ya tidak mengejutkan lah siapa yang menang. Pastinya kelompok yang ada Fattahnya. Awalnya, kelompok Fattah ketinggalan jauh, tapi gilirannya Fattah, Ia langsung berhasil memenangkan kelompoknya. Jujur, aku agak terkejut saat melihat kecepatan berenangnya Fattah.

Giliran kelompok perempuan... Karena aku, ya bisa dibilang bisa berenang, aku terpilih menjadi salah satu perenang di kelompok De Dublob. Aku agak terkejut ketika mengetahui bahwa lawanku saat berenang adalah Kak Shanty. Karena setauku, Kak Shanty berenangnya cepat! Giliranku sudah tiba, aku melompat masuk ke laut dan berenang sekuat tenagaku sampai ujung. Aku sempat mengintip, ternyata Kak Shanty ada di belakangku! Wah hal itu membuatku menjadi semangat. Aku bisa mengalahkan Kak Shanty! Dan benar saja, aku memenangkan kelompokku. Yeaaayyyy.

Setelah itu, ada pertandingan lagi. Dan ini ada taruhannya. Yang kalah, akan membuatkan makan siang untuk semuanya! Pertandingan dimulai... Yak dan karena teman sereguku bukan didalam kelompok yang sama dengan Fattah, kelompok yang aku taruhkan kalah!! Hiks

Setelah pertandingan itu, kami naik. Ada yang mandi lalu masak, dan ada yang lanjut main air di pantai yang tidak jauh dari situ. Seperti yang kalian semua kira, ya, aku main lagi di pantai. Pertamanya sih bilangnya mau ngeringin badan, eh abis itu masuk lagi ke air hehhehe. Tidak banyak yang masuk lagi ke air, hanya aku, Michelle, Andini, Adinda, Kaysan Fakhri, Alevko, Fattah, Ali, dan Hibban.

Disana, aku merasa sangat bahagia. Seperti aku melupakan semua tugas-tugasku dan hanya menikmati hari dengan teman-teman tersayangku. Mulai dari mengamati kelomang, sampai main tembak-tembakan dengan karang, kami terlihat sangat bahagia saat itu. Aku tidak bisa berhenti ketawa.

Tak lama, kami dipanggil untuk makan sebentar. Ketika aku sedang sangat semangat, aku biasanya tidak merasa lapar. Jadi aku hanya makan 4 suap saja. Setelah makan, aku bergabung dengan Alevko dan teman-temannya di pantai sebelah. Disana, aku diajak makan pasir dengan Alevko. Dan karena aku lagi hype, aku mengiyakan ajakannya. Aku, Alevko, dan Fakhri memakan pasir bersama. Wahahahah rasanya nggak enak! Aku juga mengusulkan memakan pasir kkering diatas. Dan kami bertiga (manusia-manusia absurd) langsung lari ke pasir kering, dan memakannya. Huwek!!! Tambah nggak enak ternyata, hahahah. Orang-orang melihat kami seperti kami ini anak-anak aneh atau semacamnya. Tapi, aku tidak apa-apa lho, karena aku sedang dalam kondisi yang bahagia.

Kami juga sempat perang pasir. Kami memasukkan pasir kedalam baju teman sendiri haha. Jadi kami harus berenang ke tengah laut dulu untuk mengeluarkan pasirnya dari baju kami. Yang lucu, Michelle menggunakan celana ketat, jadi agak susah untuk mengeluarkan pasir dari celananya.

Kami bermain sama sore, lalu memutuskan untuk mentas, dan membersihkan diri. Ah, rambutku penuh pasir begitu juga bajuku. Jadi saat keluar dari air, aku langsung bergegas untuk mandi. Walaupun malas, mau tidak mau aku harus mandi kan? Saat aku jalan ke kamar mandi, ternyata masih antri. Jadi aku menunggu sambil menyemil stick cumi yang disediakan oleh buda yang membuka warung di Pulau Karya.

Waktu mandi, semua berjalan dengan lancar, tidak ada yang terluka dan lain-lain, ya.. Dan sekarang waktunya masak untuk makan malam! Anja memasak telur balado untuk makan malam kami. Aku tadinya mau membantu Anja menggoreng telurnya, tapi Anja takut tanganku kesiram minyak lagi, jadi dia tidak memperbolehkanku wkwkwk.

Selama kami yang tidak punya tugas masak menunggu masakan matang, kami main injek-injekan kaki dan memainkan permainan-permainan bodoh lainnya, yang sebaiknya tidak aku ceritakan disini. Takut cringe.

Untungnya, juru-juru masak kami hebat, jadi tak lama setelah kami menyelesaikan permainan bodoh itu, makan malam kami sudah siap. Malam itu, kami makan malam bersama-sama di pendopo, sekalian refleksi dan bermain permainan yang dibuat oleh Kak Melly.

Kami tidak tidur terlambat malam itu, karena harus bangun pagi besoknya untuk pulang kembali ke Jakarta. Aku, yang terbuang dari reguku, numpang tidur di tendanya Putri Do-Young. Dan katanya aku sempat menendang kepala Adinda. Entah bagaimana.

Kredit Foto: Kak Ali/TeamPixel.Id

Day 3: Pindah Pulau!

Pagi itu aku menemukan diriku mandi untuk pertama kalinya dalam eksplorasi ini. Aku mandi juga hanya karena rambutku sudah sangat lepek dan kotor. Air yang kupakai untuk mandi rasanya asin, jadi bikin eneg kalau mau sikat gigi. Aku harus membawa air minum ke dalam kamar mandi untuk sikat gigi. Dan tidak sadar, ternyata aku sudah menghabiskan 25 menit di kamar mandi. Biasanya aku mandi cuman 15 menit.

Setelah keributan di kamar mandi pagi itu, aku dan teman-teman akhirnya bisa berangkat ke Rumah Makan Ibu Sani untuk sarapan disana. Sarapan hari itu sangat lezat! Aku memakan nasi uduk dengan bihun, ditambah kuah telur yang terasa seperti sambal. Sialnya pagi itu, galon yang berisi air refill sudah habis! Aaaah mana aku lagi sangat kepedesan pula. Jadi aku meminta minumnya Katya, weheheh.

Pada pukul 07.20, kami siap-siap mau ke dermaga untuk pergi ke Pulau Pramuka. Jam 08.00 kami akan berangkat ke dermaga, tapi mumpung masih ada 30 menit lagi, aku dan beberapa temanku memutuskan untuk jalan-jalan yang terakhir kalinya di Pulau Untung Jawa. Kami bermain di RPTRA untuk hanya 5 menit, dan langsung balik lagi karena takut telat. Tapi untungnya nggak telat kok kita.

Tepat jam 08.00, kami berangkat ke dermaga dengan carrier kami yang besaaaar sekali. Sampai seisi desa melihat kami dengan tatapan aneh. Dengan penuh perjuangan, kami akhirnya sampai di dermaga dan ternyata kapalnya belum datang. Disana, kami bisa melihat air laut yang biru disela-sela pagar dermaga.

Sambil menunggu kapal datang, kami membicarakan tentang kartun-kartun masa kecil kami. Seperti Higglytown Heroes, Powerpuff Girls, Mickey Mouse, dan masih banyak kartun lain. Sementara itu, anak-anak absurd seperti Fakhri, Ali, Fattah malah main prosotan di tangga jembatan dermaga. Aku hanya takut celana mereka robek. Untungnya enggak sih.

Akhirnya setelah menunggu begitu lama, kapal yang kami tumpangi datang juga!!! Dengan berat hati, kami menggotong carrier-carrier naik tangga jembatan dermaga. Di kapal, kami memutuskan untuk bermain ToD bersama Adinda, Tre, Michelle, Alevko, Andini, dan banyak lagi. Banyak dare-dare aneh yang kami lakukan, seperti Alevko cium Kaysan dan Syauqi cium Fakhri. Tapi sepertinya ombak pada tanggal itu sangat besar. Jadi kami semua mabok didalam kapal. Kami juga memutuskan untuk tidur di kapal supaya tidak pusing. Dan uniknya, kami tidur dempet-dempetan. Jadi anget sih.

Pada jam 12 kurang, kapal akhirnya berhenti di Pulau Pramuka. Dari dermaga, kami berjalan ke masjid yang berada tidak jauh dari dermaga tempat kami turun. Di masjid, kami istirahat sebentar sambil asyik mengobrol. Setelah yang lain selesai sholat, kami bergegas pergi ke warung makan untuk makan siang. Aku memesan pecel ayam, disana. Tapi karena tidak habis, aku memberinya kepada Kaysan yang perutnya terbuat dari karet. Anja, Ceca, Andini memesan nasi rames, dan Trisha memesan mie tek-tek. Untuk makan siang, kami menghabiskan uang Rp 68.000,00 dari uang kelompok.

Di Pulau Pramuka, kami membeli bahan-bahan makanan yang kami butuhkan untuk masak di Pulau Karya nanti. Sebetulnya yang kami butuhkan hanya telur dan bakso, tapi di Pulau Pramuka, telurnya belum datang. Jadi kami hanya membeli bakso yang harganya Rp 1.000,00 per butirnya. Kami membeli 15 butir.

Oh ya, hari itu kami ketambahan kakak mentor! Namanya Kak Melly. Ia orang yang sangat kukagumi, tidak hanya dengan stylenya yang tomboy, juga karena bakatnya dalam menulis jurnal.

Nah, setelah semua regu berkumpul, kami beberes untuk pergi ke Pulau Karya naik ojek kapal. Ojek kapal yang kami naiki cukup besar dan memiliki solar panel diatapnya. Dan ternyata, dari Pulau Pramuka sampai Pulau Karya tidak begitu jauh. Cukup melewati satu pulau saja.

Pada pukul 15.30, kami sampai di Pulau Karya, dan langsung jalan menuju tempat kami akan bermalam. Setibanya disana, kami membuka tenda dan aku berhasil membuat teman-teman satu reguku shock. Karena kata mereka, tenda yang kubawa terlalu kecil untuk 5 orang. Ternyata iya, tendaku terlalu kecil. Jadi, karena tendaku tidak muat menampung segitu banyaknya orang, kami menaruh tas kami di tenda barang milik Regu Anjing Laut. Karena Regu Anjing Laut membawa 2 tenda, jadi kami bisa menumpang tas kami disana.  Tempat kemping kami sepertinya dulu adalah lapangan untuk bermain bola, karena ada 2 gawang yang kami jadikan untuk jemuran. 

Tak lama setelah kami membuka tenda dan membereskan tas, kami memulai masak untuk makan malam. Anja dan Ceca memutuskan untuk masak nasi liwet karena gampang dan enak. Sejam berlalu, dan nasi nya masih keras. Anja sudah merasa kecewa dengan masakannya. Tampaknya, beras yang dipakai Ceca untuk nasi liwet tersebut membutuhkan air yang banyak dan seharusnya tidak diaduk-aduk terus nasinya. Akhirnya setelah 2 jam, kami menyerah. Nasi yang kami masak malah jadi keras dan rasanya hambar. Walaupun begitu, kami tetap berterima kasih kepada Anja dan Ceca yang sudah berusaha membuatkan kami makan malam.

Setelah kecewa dan bersedih karena nasi liwet, kami memutuskan untuk bergabung dengan anak-anak lain yang sedang bermain benteng. Awalnya aku jadi penjaga benteng, tapi karena aku mager, jadi aku menjadi supporter saja hehe. Aku cukup berbakat ternyata menjadi supporter, lain kali aku melamar jadi supporter deh.

Sayangnya, tak lama setelah ronde ketiga, matahari sudah setengah terbenam dan adzan maghrib sudah terdengar dari Pulau Panggang. Kami harus memberhentikan permainannya, dan yang muslim harus sholat. Sambil menunggu teman-teman sholat, aku dan Tata ngobrol didepan tendaku. Dan karena aku lapar, aku mau tidak mau makan nasi liwet yang tadi dimasak. Untungnya Trisha membawa kentang pedas jadi bisa kami jadikan lauk.

Saat aku dan Tata ngobrol, Tata menyebutkan kata-kata gas dan membuatku sedikit shock dengan sesuatu. Ternyata aku lupa membawa gas satu lagi!!! Jadi aku hanya membawa 1 gas doang. Kepalaku langsung pening, ketika Anja selesai sholat, aku langsung memeluk Anja dan meminta maaf sebanyak-banyaknya. Anja sampai bingung, dan ketika aku bilang mengapa aku memeluknya, Anja juga makin panik. Tapi untungnya Kak Ali membawa 3 kaleng gas, jadi kami bisa meminjam sedikit. Dan kami juga sedikit terbantu dengan api unggun. Untuk memasak teh dan ikan asap, kami bisa menggunakan api unggun.

Jam 8 malam, kami dikumpulkan untuk refleksi bersama kakak-kakak mentor. Kami juga ditugaskan untuk menulis logbook dengan detail. Malam itu, mama juga menelponku, menanyakan kabar. Aku selalu baik-baik, apalagi kemping dipantai. What can be better?

Refleksi berjalan dengan lancar, dan seru. Karena refleksi berjalan dengan sangat cepat, Kaysan mengusulkan untuk main werewolf. Tapi sayangnya aku lagi nggak mood main werewolf. Jadi aku, Michelle, Fakhri, Ali, dan Alevko duduk dibelakang temen-temen yang sedang main werewolf sambil membicarakan hal-hal yang absrurd. Tapi karena malam itu, kami menjadi terbuka satu sama lain.

Malam itu mungkin malam yang tidak akan pernah terlupakan untukku, karena malam itu aku, Adinda, dan Michelle tidur diluar dengan alas matrass dan flysheet. Kami juga ditemani oleh Ali, Kak Ali, Kak Opal, dan Fakhri. Karena aku tidak membawa sleeping bag, aku meminjam sarung milik Andini untuk menutupi tubuhku.

Aku sempat terbangun, lalu tidur lagi, begitu terus sampai jam 3 karena banyak sekali nyamuk yang menggangguku. Kakiku gatal-gatal, bahkan mukaku juga digigitin. Dan akhirnya aku bisa tidur dengan senyap. Tapi..... Jam 4 kami sudah dibangunkan untuk subuhan. Argh saat itu aku sangat sebal dengan kaysan yang membangunkan kami. Aku masih sangat ngantuk, jadi aku mengungsi ke tenda Tata yang masih longgar untuk tidur lagi. Dan akhirnya kebangun jam 5.30 pagi, hehe. Kebo emang.

Kredit Foto: Kak Ali/TeamPixel.Id

Selasa, 24 Juli 2018

Day 2: Bersosialisasi yuk?

"Aduh ini gimana sih nyalainnya?!!" tanya Andini pada jam 4.00 pagi. Aku yang masih tergeletak di lantai menatap Andini dengan tatapan lelah. Aku sudah bilang "ditepok dulu itunya", tapi tetap saja Andini tidak bisa menyalakan lampu kamar mandi. Jadi dengan berat hati, aku bangun dan membantu menyalakan lampu kamar mandi untuk Andini. Ya walaupun abis itu aku tidur lagi sih.

Selama teman-teman sholat shubuh, aku, Tata, dan Ceca menunggu di kamar Tata sambil ngobrol-ngobrol. Tak lama setelah teman-teman selesai sholat, kami bersiap-siap untuk sarapan! Pagi itu saat aku dan teman-teman sereguku sampai di warung makan, kami melihat teman-teman yang sudh sampai pada ketawa ngakak dan ribut. Karena ingin tau, aku bergegas lari ke dekat mereka. Ternyata botol minum Fakhri menciut saat dituangkan teh panas didalamnya HAHAHAH. Melihatnya, aku langsung tetawa terbahak-bahak. Sumpah itu lucu banget! Setelahnya, kami makan dengan waras dan tidak ada apa-apa. Jadi setelah kami makan, kami kembali ke penginapan untuk mempersiapkan keberangkatan kami menuju Pulau Rambut untuk pengamatan lagi. Yeaaay.

Akhirnya pukul 07.00 pagi, kami berangkat ke Pulau Rambut!!! Sesampainya disana, bapak penjaga pulaunya belum dateng, jadi kami main-main dulu di pantai. Ali dan Fakhri bahkan sudah basah kuyup! Aku bisa merasakan betapa dinginnya nanti ketika mereka menyusuri pulau dengan bajunya yang basah kuyup itu. Aku cukup bisa menahan diriku untuk tidak nyemplung, karena aku terlalu mager untuk membereskan baju basahku heheh.

Kami mulai menyusur pulau sekitar jam 08.30 pagi. Kami menggunakan sepatu boots kami untuk melindungi kaki saat berjalan diatas karang-karang mati yang akan sering kami temukan dijalan. Saat berjalan, hal pertama yang aku temukan adalah sampah, kemudian sampah, dan sampah. Banyak sekali sampah yang bertebaran disana!

Dalam perjalanan, ada kalanya kami masuk sedikit ke laut karena jalannya dipenuhi dengan tanaman bakau. Air lautnya masuk ke sepatu boots kami! Duh sangat tidak nyaman saat berjalan. Adinda sangat beruntung karena sepatu bootsnya tinggi jadi air laut tidak masuk ke dalam sepatunya. Sebenarnya kami bisa agak manjat-manjat pohon bakau sedikit untuk menghindari air. Tapi cukup sulit karena sepatu boots kami yang besar kadang susah dikontrol.

Hal menarik pertama yang kulihat adalah Elang Laut Perut Putih yang dengan anggunnya bertengger di sebuah pohon. Melihatnya, kakiku langsung lemas. Kenapa aku tidak membawa kameraku???!!!! Untungnya Kaysan membawa kameranya. Tapi ketika kupinjam, hasilnya malah jelek banget. Aku memang tidak terbiasa memakai kamera selain 60D dan Eos-M yang aku punya. Aku menghabiskan waktu disana cukup lama karena sangat mengagumi sosok elang tersebut.

Tak jauh dari elang, kami melihat ada seekor anak Pecuk Padi Hitam yang tergeletak di pasir. Sayap sebelah kanannya patah dan dia sudah sekarat. Kak Ali memindahkannya ke atas sebatang bambu supaya paling tidak, dia tidak terkena air yang membuatnya kedinginan. Melihat matanya membuatku merasa tidak tega untuk meninggalkannya dengan kondisi yang sekarat seperti ini.

Mau tak mau kami harus melanjutkan perjalanan kami, jadi terpaksa kami meninggalkan anak Pecuk Padi Hitam itu sendirian. Lalu, aku melihat teman-teman sedang berkumpul memperhatikan sesuatu yang dipegang oleh Ali. Aku merasa penasaran, jadi aku ikut nimbrung. Ternyata itu adalah timun laut! Sepertinya sih itu termasuk binatang, badannya kenyal dan tidak memiliki tulang, dan juga berlendir. Jujur saja, aku agak jijik untuk memegangnya, tapi karena penasaran, aku menyentuhnya sedikit. Dan langsung menyesal, hiks.

Tak lama dari tempat kami melihat timun laut, aku diberitahu oleh Alevko bahwa ada anggur laut yang bisa dimakan. Alev mengambilkannya untukku, rasanya seperti telur salmon tapi bedanya, anggur lautnya sangaaaat asin. Dan after-tastenya itu amis, bikin eneg.

Ditengah perjalanan, kami juga mengambil beberapa ikan gabus! Kami menemukannya di tengah-tengah batang bambu. Ternyata disana tempat mereka bersembunyi! Kami mendapatkan banyaak sekali ikan gabus. Kami membawanya kembali ke tempat kita berkumpul tadi pagi, untuk membakarnya.

Setelah hampir 3 jam kami menyusuri pulau, kami akhirnya kembali ke titik kumpul!! Disana kami langsung beristirahat karena perjalanan tadi sangat melelahkan. Aku langsung membuka sepatu bootsku dan menjemurnya dibawah sinar matahari yang sedang terik pada waktu itu.

Ketika sedang beristirahat, Kaysan dan Alevko memiliki ide untuk mengubur mereka di pasir. Dengan senang hati, kami langsung bergerak dan membuat mereka tertutup dengan pasir. Aku cukup kasian dengan mereka karena muka, mulut, dan telinga mereka juga ikutan penuh dengan pasir. Alevko sampai tidak bisa berbicara, hahahah.

Saat kami sedang mengubur Kaysan dan Alev, Andini dan Kak Ali menyiapkan makan siang. Mereka membakar ikan-ikan yang sudah kami tangkap tadi. Memang mereka tidak pernah kehabisan akal. Dan ketika sudah jadi, kami yang perutnya kelaparan langsung mengembat ikan-ikan yang tadi dibakar. Enak juga ternyata, padahal tidak dibumbui lho!

Kami juga makan siang disana. Bapak yang menjual makanan di Pulau Untung Jawa, membawakan kami makan. Ditambah dengan ikan bakar yang nikmat tadi, makan siang kami pada hari itu komplit!

Setelah menikmati makan siang, kami pikir ini adalah waktunya untuk leyeh-leyeh di hammock sambil memandang pantai. Tapi sepertinya Kak Shanty tidak dalam satu pemikiran dengan kami. Tiba-tiba Kak Shanty bangun dan bilang "Yok, udah kenyang kan? Waktunya bersih-bersih pantai!". Dengan lemahnya aku dan Katya menjawab "Tidaaaaaaaaaakkkkk" sambil berbaring.

Akhirnya kami membuat kesepakatan. Kalau Andini menyetujui kegiatan ini, kami akan membersihkan pantai. Tapi kalau Andini tidak menyetujuinya, kami bisa leyeh-leyeh kembali.

Dan waktunya telah tiba, Andini datang kemari dengan ekspresi bahagia di mukanya. Langsung, tanpa basa basi kami tanya kepada Andini. Sayangnya jawaban Andini tidak sesuai perkiraan. Ia menyetujuinyaaaaa!!!! *nangis*

Dengan berat hati, kami bangkit setelah diberikan kantong sampah oleh Kak Shanty. Mana hari itu lagi panas-panasnya pula. Duh, memang dunia ini tidak adil. Tapi kalau dilihat-lihat, memang banyak sekali sampah di Pulau Rambut. Apalagi styrofoam, sendal, dan plastik. Melihatnya membuatku sedih. Aku sampai mual kalau melihat bungkus p*pmie lagi. Ingin rasanya aku bakar semua p*pmie yang dijual.

Eh, tidak terasa hampir semua kantong sampah yang kami bawa sudah penuh! Dan sepertinya tidak membuahkan efek apapun kalau melihat pantainya. Benar-benar kalau masih banyak sampah yang diproduksi, pantai tidak akan dipenuhi dengan pasir. Tapi pantai akan dipenuhi dengan SAMPAH. Jadi guys, plis stop makan p*pmie, bawa tempat makan selalu, dan jangan beli makanan yang berkemasan kecuali daun.

Akhirnya selesai!!! Kami menyelesaikan kegiatan terakhir kami di Pulau Rambut. Aku berjanji pada diriku bahwa aku akan kembali. Pasti akan kembali, dengan membawa kameraku hehe. Kami kembali ke Pulau Untung Jawa pada pukul 15.30 dan langsung ambruk di tempat tidur. Kami istirahat sebentar sebelum melanjutkan tugas berikutnya yaituuuuu, wawancaraaa!!

Lagi dan lagi kami pasti punya tugas untuk berkenalan dengan seseorang. Sore itu, aku dan teman-teman berjalan ke desa yang ada di pulau. Desa ini cukup ramai, dan dipenuhi dengan warna-warna untuk menyambut Asian Games 2018. Banyak sekali anak kecil yang sedang bermain bersama temannya, ada banyak es kepal milo juga disini! Aku cukup terkejut dengan keberadaan es kepal milo di pulau ini.

Aku dan teman-teman sudah hampir mengelilingi pulau, dan masih belum mendapatkan orang untuk diwawancarai. Untungnya ketika kami sudah hampir menyerah, ada anak-anak yang kelihatannya baru pulang sekolah. Awalnya ragu, tapi demi kebaikan nusa dan bangsa, aku menyapa mereka. Mereka sangat ramah, kami berbincang tentang sekolah, hobi, sampai akhirnya salah satu anak bilang "Kak yok kita main bareng. Tunggu ya, aku ganti baju dulu" Dengan senang hati, aku menyetujui permintaannya.

Akhirnya aku, Katya, dan Andini berjalan bareng ke RPTRA untuk mengobrol disana. Sayangnya mereka malu-malu dengan aku, jadi tidak banyak informasi yang bisa kudapatkan. Tak lama setelah itu, kami melihat ada anak-anak remaja yang sedang berjalan sambil menyanyikan lagu "Anpanman" dari BTS. Tanpa basa basi, aku langsung memanggil mereka. Ternyata mereka anak-anaknya seru!!!

Kami berkenalan dengan 3 anak remaja. Yang pertama, namanya Srikanti. Aku dan dia banyak sekali kesamaan. Seperti umur kami yang sama-sama 14 tahun, lalu kelakuan kami yang sama-sama tomboy. Yang satu lagi namanya Deka. Ia juga banyak kemiripan denganku. Pertama, kami berdua sama-sama suka K-Pop. Kedua, kami berdua sama-sama cerewet dan tidak bisa diam. Ketiga, kami berdua biasnya Taehyung!!! Nah, satu lagi namanya Suci. Aku dengannya tidak banyak kemiripan, tapi dia dan Katya sama persis! Malu-malu didepan orang baru dan suka menggambar.

  Foto: Kak Shanty

Ketika kami sedang asyik mengobrol, Fattah dan Hibban tiba-tiba datang dan menyapa kami. Aku memperkenalkan teman-teman baruku kepada mereka. Entah bagaimana, Srikanti keceplosan dan berkata bahwa Fattah ganteng. Dengan spontan aku langsung tertawa terbahak-bahak. Lalu aku memancingnya dengan bilang "Ada yang lebih ganteng lho di penginapan". Dengan cepat, Deka langsung bertanya kepadaku, apakah aku berteman dengan laki-laki yang memakai carrier berwarna biru dan badannya tidak terlalu tinggi. Oh ya, katanya rambutnya juga gondrong. Pertama aku pikir mereka membicarakan tentang Alevko. Ternyata tidak! Mereka membicarakan tentang Fakhri!!

Mereka bahkan meminta untuk ikut mengantar kami balik ke penginapan hanya untuk melihat Fakhri. Dalam perjalanan, kami membicarakan tentang lagu-lagu BTS terbaru dan bias kami masing-masing. Ketika kami sampai di penginapan, kami melihat banyaaak sekali anak-anak perempuan yang sedang teriak-teriak kegirangan didepan deretan kamar kami. Sekilas aku mendengar ada yang teriak "BOWOOOO". Aku sangat bingung pada saat itu. Emang ada gitu, anak oase namanya bowo? Itu yang terus berada di pikiranku.

Yaampun ternyata, mereka memanggil Fakhri dengan panggilan "Bowo". Why gitu lho??? Teman-teman yang laki-laki sampai susah-susah menarik Fakhri keluar untuk bertemu dengan fans-fansnya ini. Sayangnya teman-teman baruku tidak bisa lama-lama, jadi kami berpisah setelah foto. Tapi, anak-anak perempuan lainnya masih pada disini.

Awalnya aku kira tidak akan lama, tapi kok pas sholat magrib masih pada disini. Sampai akhirnya mereka kami ajak makan malam bersama. Tak lama setelah mereka menghabiskan makannya, ada bapak-bapak memakai sepeda, memanggil anak-anak itu. Ternyata mereka kena omelan. Aku merasa sangat bersalah untuk mereka.

Dan seperti malam-malam sebelumnya, malam ini kami tutup dengan refleksi dari kakak-kakak mentor tersayang. AND WE ARE READY FOR THE NEXT ADVENTURE!









Kredit Foto: Kak Ali/TeamPixel.Id