Senin, 01 Mei 2017

Janssen van Heins (1)

Pada suatu malam, aku seperti biasa menonton film di laptop. Sebenarnya dari sore aku merasakan kehadiran salah satu dari "mereka" di rumahku. Tetapi aku tidak menggubrisnya. Jujur, aku merasa sedikit kurang nyaman. Aku sedang menonton sebuah film yang berjudul: The Fault In Our Stars. Film ini bergenre drama, dan isinya memang menyedihkan. Jadi, karena suasana hatiku memang sedang sedikit kacau, aku menangis hampir setengah dari film itu. Dan ketika aku menangis, diriku menjadi lemah, dan pengeliatanku bertambah tajam. Ketika aku sedang menangis, aku mendengar suara berkata "hey" dengan logat dutch dan karena aku merasakan penghasil suara ini tidaklah berbahaya, aku menjawabnya. Aku berkata "hai" dan langsung dijawab "I like it when you sing" di dalam suasana hatiku yang seperti ini, aku tidak tahu apakah aku ini ketakutan, senang, sedih, atau bangga 😂😂. Hobiku memang menyanyi. Jadi aku sering bernyanyi di kamar, di saat aku menonton TV, dan lain-lain. Akhirnya aku hanya menjawab "Thanks". Lalu semua berubah canggung antara aku dan dia. Mungkin dia juga merasakan kecanggungan di antara kita, dan akhirnya memperkenalkan diri. Dia memperkenalkan diri "so... I'm Janssen" dan aku menjawab dengan keluguanku "how do you spell it?" lalu dia menjawab "it's J-a-n-s-s-e-n" dan aku menjawab "oh! that's actually a good name for a guy like you" entah mengapa aku merasa aku ini freak atau bagaimana karena menanggapi orang yang aku baru temui seperti ini 😄. Akhirnya gantian aku yang memperkenalkan diri "I'm Nite by the way" yang langsung dijawab dengan "that's a very nice name Princess" dan aku jawab "why, thank you" dengan malu karena dipanggil "princess".

Lalu kami mengobrol tentang film yang barusan kutonton. Ada salah satu adegan di dalam film itu ketika salah satu pemeran film ini yang meninggal, dan aku segera bertanya pada Janss mengapa dia bisa berada di alam antara (sebutan untuk arwah yang belum dapat meneruskan perjalanannya). Aku bertanya "hey Janss?" dan langsung dia jawab dengan "yes Princess?". Tanpa basa basi, aku langsung mempertanyakan pertanyaanku itu. "how do you die?" tanyaku, "well I actually kill myself and my family." katanya tanpa rasa penyesalan. Hal ini membuatku sedikit takut karena pertanyaan-pertanyaan berat langsung mengisi otakku. Apakah dia ini pembunuh? Apakah dia punya masalah dengan kejiwaan? Apakah dia ini berbahaya? Haruskah aku kabur, dan meningalkannya? 

Dengan penuh keberanian, aku bertanya dengan hati-hati "how do you kill yourself and your family?" Dia lalu menampakan diri ke aku. Badannya tinggi dan lumayan berisi, rambutnya cokelat kepirang-pirangan, tampangnya manis, dan tampan. Dia memiliki mata yang lebar, bibirnya merah muda dan lumayan tipis, alisnya rapih berwarna cokelat tua, dan hidung yang mancung. Dia menggunakan kemeja putih yang dimasuki kedalam celana panjang hitam dan dia juga menggunakan ikat pinggang hitam. Biasanya aku merasa pusing dan sesak. Tapi entah mengapa, aku tidak merasakannya. Dia menatapku dengan sorot mata sedih dan bersalah. "I set my house on fire by accident" katanya dan Ia langsung menunduk. Aku ikut sedih, dan berkata "I'm so sorry" dengan nada simpatik. Lalu dia menatapku lagi tetapi sekarang dengan sorot mata berterimakasih lalu tersenyum lelah. Dia mulai bercerita "We were going to the church, I was hungry at that morning, and was going to make some eggs. Then, I heard explosions. And then, all of sudden, there were fire all over my house. I was trying to put out the fire, but I failed. And I didn't die because of the fire. I died because of the smoke that I inhaled. And yep, I killed my whole fam." Aku hanya terkejut mendengar ceritanya. Lalu aku menanggapi "Where was your house?" dan dia menjawab "Amsterdam, Netherlands" aku terkejut dan langsung menanggapi "wow, long way to go ha?". Dia hanya terkekeh lalu mengangguk. Aku lalu bertanya lagi "when was it? The fire?" lalu dia mejawab "in 1880" dan jawabanku hanyalah anggukan. 

Lalu aku berpikir. Biasanya yang dibutuhkan arwah-arwah di alam antara adalah doa bantuan. Jadi aku menawarkan doa bantuan tersebut padanya. Aku bertanya "Hey Janss, do you want me to help you continue your journey?". Setelah aku bertanya, dia langsung terkejut dan menatapku ketakutan sekaligus tidak percaya. Lalu aku bertanya "what is it Janss? You okay?" dan dia menjawab "What is heaven like? Is heaven scary? Is the journey scary?" sambil ketakutan. Lalu aku berusaha menenangkannya "hey, You're going to be just fine. You're a tough boy Janss!" dia tidak begitu menggubris kata-kataku dan menjawab "Are there many fires in heaven? They always picture heaven like something nice. But maybe they lied! Tell me Princess, what is heaven like?" aku hanya mengidikkan bahu dan menggeleng, lalu menjawab "I have never died before. Am I right Janssen van Heins?" lalu dia hanya menangguk dengan kecewa. Aku ingin membuat semua jelas, dan bertanya lagi "so, you want to continue your journey or not?" kataku dengan tegas. Lalu dia menjawab "Well, let's try then" dan jawabannya itu membuatku lega dan bahagia.

Akhirnya aku menutup laptop, memasuki kamar, dan langsung berdoa. Setelah aku melepaskan Janssen, dia menatapku lekat-lekat, lalu berkata "Thank you very much, Nite" sambil mengangguk, aku berkata "you are very welcome Janssen van Heins" Lalu dia berjalan menjauhi aku.

Cerita tentang Mr. van Heins ini belum selesai. aku akan melanjutkannya lagi!
Terima kasih sudah membaca blogku!
Minuit 👊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar