Kamis, 01 Juni 2017

Kemping Persera



·      Tas yang Berat
Pada jam 04.30 pagi aku terbangun oleh suara omelan mama karena aku tak kunjung bangun dengan alarm handphone. Untung saja aku bangun pada saat yang tepat. Akhirnya aku bangun dari tempat tidur, lalu langsung menyambar handuk dan mandi. Setelah mandi, badanku langsung segar dan aku langsung semangat. Setelah aku menggunakan seragam pramukaku, aku langsung menyambar tasku. Tapi saat aku mengangkat tasku, aku langsung terjatuh karena tasku sangat berat. Karena aku penasaran dengan berat tas itu, aku menimbangnya. Aku terkejut melihat angka yang ditunjukkan oleh timbanganku itu. Timbangan itu menunjukkan angka 10,5 kg. Tidak begitu mengherankan kenapa aku jatuh saat mau mengangkatnya tadi. Aku akhirnya mencoba untuk mengangkat tasku untuk kedua kalinya. Aku berhasil menggendongnya. Tapi setelah 5 menit, bahuku terasanya seperti mau copot. Jadi, setelah aku memasukkan bekal makan siang, aku langsung menaruh tasku kedalam mobil. Setelah aku mengecek ulang semua barang bawaanku dan ternyata sudah lengkap, aku langsung masuk mobil. Selama perjalanan aku tertidur lagi karena sangat mengantuk.

·      Ha, Yla baru berangkat?!
Jam 7.30 aku sampai di Taman Topi. Aku belum sarapan pada saat itu, jadi aku sarapan bubur ayam di Taman Topi dulu. Aku baru pertama kali membawa tasku sambil berjalan jauh pada pagi itu. Ternyata melelahkan L. Setelah makan, aku akhirnya berjalan ke stasiun. Saat berjalan ke pintu masuk, aku bertemu Katya. Lalu, aku dan Katya berjalan bersama ke titik kumpul. Disana sudah ada Kak Andito, Fattah, dan Dinda. Sesampai di titik kumpul, aku langsung menaruh tasku ke kursi yang tersedia disitu. Teman-teman langsung mencobai tasku dan berkata “berat ya, berat.” Aku hanya menanggukkan kepala dan memikirkan nasibku nanti saat mendaki sampai camping ground. Memikirkan saja sudah membuatku pusing. Jadi aku berpikir positif saja lah.. Nanti kalau dipikirin terus, serem kan kalo jadinya stress. Kami lalu mengobrol-ngobrol dengan seru sebelum mama tiba-tiba memberitahu kami bahwa Yla, yaitu ketua regu Bunga Bangkai, terlambat bangun dan juga terlambat berangkatnya. Karena pemberitahuan itu, kami langsung deg-degan. Pikiran kami sudah menerawang, karena Yla membawa banyak barang-barang regu. Setelah sudah lama kami menunggu dengan gelisah, Kak Shanty, bersama dengan teman-teman yang lainnya datang.
Akhirnya kami briefing, untuk kemah nanti. Setelah selesai briefing, kami berfoto dulu, lalu pergi ke sebrang stasiun untuk bertemu dengan kakak-kakak pembina. Untuk bisa ke sebrang stasiun, kami harus melewati jembatan layang dulu. Saat menaiki tangga, aku merasa sangat capek, karena tas yang berat sekali. Kami berkumpul di depan toko outdoor. Disitu, kami mengucapkan salam dan regu-regu yang sudah siap disuruh untuk naik angkot duluan. Tentu saja regu Bunga Bangkai tidak ikut menaiki angkotnya. Lalu kami menunggu Yla, supaya dapat berjalan bersama. Tapi sepertinya karena Yla masih saja belum datang, akhirnya kami (aku dan Katya) dipersilahkan masuk ke dalam angkot tanpa Yla bersama kami. Tas kami berada di angkot yang berbeda. Ada beberapa teman diantara kami menaiki angkot yang isinya barang-barang.

·      Lagu Signal Sudah Diulang Tiga Kali
Di angkot, kami mendengarkan berbagai macam lagu. Tapi yang paling sering kami dengarkan adalah lagu dari Twice yaitu grup penyanyi dari Korea, yang berjudul Signal. Lagu-lagu yang kami dengarkan berasal dari handphone milik Yudhis. Di perjalanan, teman-teman mengobrol tentang sesuatu yang tidak begitu aku mengerti, jadi aku hanya berbicara seperlunya saja. Setelah beberapa lama, angkot kami akhirnya sampai di parkiran Suaka Elang. 
·      Terima Kasih Atas Bantuannya
Sesampainya disana, kami beristirahat sebentar. Setelah hanya beberapa menit kami bersandar ke angkot, ada beberapa teman yang naik ke atas bukit. Karena kelihatannya asik, aku akhirnya ikut menaiki bukit. Tapi tidak sampai atas. Ternyata seru juga menaiki bukit itu. Tapi karena kami sudah dipanggil oleh kakak pembina, akhirnya kami turun. Kami disuruh untuk mengeluarkan tas kami dari angkot. Setelah kami mengambil tas masing-masing, kami diberikan satu tenda per regu. Aku yang membawa tendanya. Wah, ternyata berat juga ya.  Ditambah tasku yang beratnya 10,5 kg tadi. Baru seperempat perjalanan aku sudah sangat kelelahan. Sepertinya Zaky melihat bahwa aku sangat kelelahan sebab dia berjalan dibelakangku. Akhirnya Zaky bertanya “Mau dibantuin nggak?” Tapi aku merasa tidak enak, jadi aku menjawab “Ah, nggak papa. Nggak usah” Sebenarnya aku membutuhkan bantuannya. Lalu beberapa saat kemudian, aku mulai merasa lelah lagi. Akhirnya Zaky bertanya lagi “Itu berat nggak?” sambil menunjuk tenda yang aku bawa. Aku hanya tersenyum untuk jawabannya. Akhirnya Zaky langsung menyabar tenda yang aku bawa. Aku sangat berterima kasih pada Zaky, karena setelah itu aku merasa lebih ringan. Lalu karena aku berjalan sangat lambat karena tasku itu, akhirnya semua mendahului aku. Jadi, dibelakangku adalah Kak Noni. Setelah melewati jembatan, ada banyak batu-batu, dan untuk menaikinya sangat melelahkan. Setelah selesai dengan urusan “batu” itu, ternyata teman-teman sedang beristirahat. Akhirnya aku beristirahat juga. Tapi yang lainnya langsung berangkat lagi. Akhirnya yang tersisa hanya aku, Tata, Kak Noni, dan Katya. Setelah bercerita tentang penyakit-penyakit pribadi dan tentang penyakit-penyakit yang sering dialami orang ketika naik gunung, akhirnya kami berangkat lagi. Setelah mendaki agak lama, sepertinya Kak Noni menyadari bahwa aku kelelahan. Akhirnya Kak Noni bertanya “Mau gantian tas nggak? Punya kakak nggak terlalu berat.” Tapi aku merasa kasihan kepada Kak Noni karena tasku berat sekali, dan aku tidak mau merepotkan. Akhirnya aku bilang “nggak usah kak, nggak papa. Berat banget lho kak.” Dengan terpaksa aku berkata itu. Kak Noni hanya mengangguk dan kelihatannya merasa kasihan padaku. Aku pun sebenarnya merasa kasihan pada diriku sendiri. Akhirnya kami tiba di pos. Di sana, kami melihat Adam yang duduk sendiri. Karena kami sangat kelelahan, kami beristirahat lagi disitu. Adam menghampiri kami sambil berkata “Aku dimarahin sama yang lain soalnya aku berangkat duluan” lalu aku hanya tertawa. Tata lalu menjawab “Kan udah ada peraturannya; berjalan harus bersama-sama” Lalu Adam menghampiri kita, dan membawa kantong plastik yang dibawa oleh Kak Noni. Kak Noni menolak bantuan Adam, tapi Adam tetap ingin membawa kantong plastik itu. Akhirnya dia membawa plastik itu, dan pergi ke camping ground yang sudah tidak terlalu jauh dari tempat kita beristirahat. Di situ, Kak Noni bertanya lagi “Mau tukeran nggak? Punya kakak nggak berat nih” Lalu karena aku memang sudah sangat lelah, aku menjawab “Yakin kak? Ini berat banget lho. Kasian kakaknya nanti” Tapi Kak Noni menjawab “ Nggak papa, sini gantian” Akhirnya aku melepas tasku, dan menjatuhkannya ke tanah. Lalu saat aku mengangkat tas Kak Noni, aku hampir terjengkang. Setelah membawa tasku yang segitu beratnya, lalu membawa tas Kak Noni, rasanya enteng sekali tas Kak Noni. Aku akhirnya membawa tas Kak Noni dengan senang hati. Tak lama kemudian kami sampai di camping ground.

·      Akhirnya Ketuanya Datang Juga
Sesampainya di camping ground, regu Edelweiss sedang memasang tenda. Setelah aku istirahat sebentar, aku akhirnya membantu mereka. Akhirnya tenda sudah berdiri, dan aku menyumbangkan matrasku untuk ditaruh di depan tenda. Nasib matrasku menyedihkan. Dia diinjak-injak dan akhirnya penuh dengan lumpur dan tanah, tapi tidak apa-apa karena tanpanya akan sangat merepotkan bagi kami untuk melepas sepatu diluar. Setelah memasang matras di dalam dan di luar tenda, kami memasuki tas-tas kami dan langsung menikmati makan siang yang kami bawa sendiri-sendiri. Setelah kami makan, kami mulai mengobrol-ngobrol. Aku duduk di depan tenda dan menghadap ke luar pada saat itu. Tapi aku banyak menoleh ke belakang karena sedang mengobrol bersama teman-teman. Ketika aku menoleh keluar, aku melihat ketua reguku yaitu Yla. Aku langsung berteriak “Ylaaaa!!!” dan langsung disambung dengan teriakan teman-teman yang lain. Kami sepertinya begitu bahagia melihat Yla akhirnya hadir. Tapi memang pada saat itu aku begitu bahagia melihat Yla, karena kalau dia tidak ada, kacaulah aku dan Katya. Ketika Yla sudah didepan tenda, kami semua langsung keluar dan memberi sambutan berbeda-beda; aku mengucapkan syukur karena akhirnya dia datang juga, Tata menyuruh Yla masuk supaya bisa makan dan beristirahat, Dinda juga menyuruh Yla istirahat karena kelihatannya Yla lelah, Katya mengomeli Yla karena ketua seharusnya tidak boleh telat, dan Anja tertawa karena omelan Katya. Katya masih tetap menomeli Yla. Yla hanya meminta maaf sambil ngos-ngosan. Tata akhirnya gantian mengomeli Katya karena seharusnya Yla dibiarkan istirahat dan makan. Setelah kekacauan yang tejadi di depan tenda, akhirnya Yla bergerak sendiri ke dalam tenda dan akhirnya duduk. Kami langsung melanjutkan obrolan kita tadi bersama Yla juga.
·      Navigasi Darat
Setelah makan, kami mebuat teh hangat tapi ketika sudah mendidih, kami dipanggil untuk berkumpul. Akhirnya pancinya kami tutup dengan kain, dan langsung mengambil barang-barang yang diperlukan untuk belajar tentang navigasi darat.
Point-point yang kudapatkan dari Bang Kocil (pengajar navigasi darat untuk kami):
§  Navigasi adalah ilmu membaca peta dan untuk menentukan keberadaan kita di atas peta
§  Peta: sebuah lokasi yang digambar di atas bidang datar
§  Peta yang digunakan untuk mendaki gunung adalah Peta Topografi.
§  Ilmu navigasi selalu berkaitan erat dengan geografi dan matematika. Ilmu navigasi adalah ilmu pasti.
Skala
§  Jikalau skala dipeta itu 1:25.000 berarti jaraknya 1 cm dipeta, dan 25.000 cm atau 2,5 km di lokasi sebenarnya.
Garis Contour
§  Garis Contour mewakili ketinggian
§  Setiap garis contour memiliki selisih 12,5 m (tergantung skalanya, skala yang kami gunakan 1:25.000)
§  Garis Contour yang  menjauhi puncak berarti adalah punggungan gunung.
§  Garis Contour yang mendekati puncak berarti adalah lembah.
Kompas bidik
§  Untuk menggunakan kompas bidik, ada rumusnya yaitu Azimuth dan Back Azimuth.
§  Kami bidik satu titik lalu cek berapa derajat di kompasnya itu.
§  Rumus Azimuth: Jikalau angkanya kurang dari 180 derajat, tambahkan angka itu dengan 180 derajat.
§  Rumus Back Azimuth: Jikalau angkanya lebih dari 180 derajat, kurangi angka itu dengan 180 derajat.
§  Ketika sudah mendapat angka keduanya, cocokkan. Ketika hasilnya sama, maka bidikkannya lurus.
Karvak
§  Kotak-kotak biru pada peta itu disebut Karvak
§  Karvak itu ukurannya 3,7 x 3,7 cm.
Setelah belajar teorinya, kami mempraktekannya. Kami turun ke parkiran, lalu menaiki bukit yang ada di situ. Memang susah untuk naik ke puncaknya, tapi ternyata keren sekali pemandangan di atas sana.
Aku sudah berkata “sayang banget nih nggak bawa kamera” untuk kesekian kalinya.
Diatas, kami beristirahat dulu lalu mulai membaca peta. Aku sebenernya tidak begitu mengerti bagaimana cara menghitungnya, tapi yang aku mengerti adalah apa saja yang bisa dijadikan titik untuk dibidik. Setelah kami selesai menghitung dimana titik kami berada, kami akhirnya turun sambil membawa senter dan menggunakan jas hujan. Tapi ketika menuju ke camping ground, aku kepanasan dan akhirnya melepas jas hujanku. Tapi ketika sudah agak lama aku membuka jas hujan, tiba-tiba hujan turun dan lama-kelamaan hujan makin deras. Setelah itu, kami akhirnya sampai juga di camping ground. Aku langsung masuk ke dalam tenda yang sudah ada Dinda dan Tata. Bajuku basah kuyup begitu juga dengan topi dan rambutku.
·      Lumayan, EdelBangkai Juara Tiga!
Setelah basah-basahan, kami mengganti baju lalu memasak teh ulang. Kami mengulangi, karena kain yang tadi diperkenankan untuk menutup panci teh ternyata ternyata malah masuk ke dalamnya. Lalu setelah meminum teh yang hangat, kami mulai memasak. Dinda mengusulkan “eh, kita bikin nasi liwet aja ya? Kan gampang dan enak lagi.” Akhirnya kami semua menyetujui usulan itu. Saat sedang memasak, tiba-tiba kakak Pembina mendatangi tenda kami dan berkata bahwa jam 8 kami harus sudah berkumpul. Akhirnya kami bergegas-gegas memasak. Tapi ternyata nasi liwetnya tak kunjung matang. Aku tiba-tiba teringat bahwa aku membawa jelly. Akhirnya aku menawarkan kepada teman-teman dan langsung mereka makan dengan lahap. Mereka kelihatanya lapar sekali, sampai-sampai Katya memakan sepotong jelly yang sangat besar dalam satu suapan >_< . Dinda merasa sangat tidak enak kepada kami karena dia yang mengusulkan untuk membuat nasi liwet. Tapi kami tetap meyakinkan Dinda bahwa bukan salah dia kalau sampai sekarang kami belum makan. Sayangnya, setelah kami memakan jelly, kami dipanggil untuk  berkumpul. Akhirnya kami berkumpul dengan perut yang bisa dibilang kosong. Di luar, kami nge-review apa yang telah kami pelajari, memberi masukkan untuk Bang Kocil, lalu memberikan salam kepada Bang Kocil karena Bang Kocil mau pulang.
Setelah memberi salam, kami disuruh membuat yel-yel per regu. Akhirnya kami menggabungkan 2 regu perempuan menjadi 1. Nama regu itu adalah EdelBangkai. Dengan nama itu dengan gampang dan simple, kami membuat yel yel. Setelah semua regu laki-laki maju, waktunya regu EdelBangkai untuk menunjukkan yel-yelnya. Ternyata di depan kami kurang kompak dan harus diulang 2 kali :’) Setelah kami maju, waktunya pemberitahuan siapa yang menang. “Juara ke-empat” Kak Noni mengumumkan, “Jatuh kepada…” Aku dan yang lainnya mendengarkan dengan serius. “…Regu Gorilla” wah, kami langsung lega karena bukan kita yang paling buruk. Setelah pengumuman juara keempat, waktunya mengumumkan juara ketiga “Juara ketiga, jatuh kepada…” Kak Noni mengumumkan kembali. Kami sudah agak santai karena paling tidak, kami bukan diperingkat paling rendah. “…Jatuh kepada…” Kami deg-degan lagi. “Kepada Regu EdelBangkai!” Kami langsung terkejut.
·       Wah, Nasi Liwetnya Enak Banget!
Setelah Kak Noni mengumumkan semua juaranya, kami kembali ke tenda. Dinda, Katya, dan Anja sholat. Sementara aku, Yla, dan Tata di tenda sambil kelaparan. Kami mengecek nasi liwetnya, ternyata enak sekali! Setelah kami mencicipi dari panci, kami langsung mengambil piring sendiri-sendiri dan langsung mengambil porsi kami sendiri-sendiri karena sudah kelaparan. Kami makan dengan lahap pada malam itu. Ketika Dinda, Katya, dan Anja kembali, aku langsung memberi tahu bahwa nasi liwetnya enak sekali. Aku, Yla, dan Tata langsung bilang “worth it banget Din…” kepada Dinda. Setelah Dinda dan Anja makan nasi liwetnya, kami memakan smores. Wah, lezat sekali marshmallow yang meleleh di tengah biscuit yang gurih. Kami sangat menikmati makan malam kami itu.
·       Mengakhiri Malam Dengan Curhatan
Pada jam 11 malam, Tata dan Anja sudah tidur. Sementara, aku, Yla, Dinda, Katya belum bisa tidur. Daripada mengakhiri malam dengan berdiam-diam, kami akhirnya mengobroli beberapa hal; kenapa keluar sekolah, orang yang kami taksir, lalu hal-hal yang random. Kami sempat berbisik-bisik, dan juga sempat tertawa sangat kencang. Selama kami mengobrol, aku tidak berbaring sama sekali, karena di tempat aku tidur, ada satu batu yang sangat menonjol dan sangat mengganggu ketika aku berbaring. Kurang lebih jam 1, Tata terbangun dari tidurnya dan hanya duduk menatap kearah kami yang sedang mengobrol. Aku pertama kaget saat melihat sosok yang duduk di pojok tenda kami, tapi saat aku melihat lekat-lekat, ternyata sosok itu adalah Tata. Lalu Tata mengingatkan kami “Eh tidur, besok bangun jam setengah lima lho. Eh kita kan juga belum nyuci panci kita. Jadi, besok bangunnya lebih awal lho ya..” Kami hanya nyengir kearah Tata dan berkata “nggak bisa tidur nih” secara berbarengan. Tapi setelah itu, kami langsung berbaring ditempat yang sudah kami atur. Tak lama kemudian, kami mengucapkan selamat tidur lalu satu per satu dari kami tertidur pulas.


Hari Kedua
·      Mie Goreng Asin dan Roti Bakar Untuk Sarapan
Keesokan harinya, kami bangun jam setengah 5 kurang. Pagi itu, aku, Katya, dan Tata pergi mencuci piring. Kami tidak membawa spons ataupun sabun untuk mencuci panci, gelas, sendok, garpu, dan piring yang telah kami gunakan untuk makan semalam. Akhirnya kami mencoba untuk mencuci hanya dengan air yang mengalir. Panci yang kami pakai untuk memasak nasi liwet semalam sangat berminyak, jadi kami tidak bisa betul-betul menghilangkan minyaknya. Setelah mencuci piring, kami kembali lagi ke tenda. Di tenda, ada beberapa yang sedang membereskan tenda sehabis kekacauan semalam. Pagi itu udara sangat dingin, aku sampai menggigil. Aku masuk kembali ke tenda dan mencoba untuk merapihkan tasku. Malam kemarin, udara tidak begitu dingin jadi aku tidak mengeluarkan sleeping bag untuk tidur. Badanku sakit-sakit pada pagi itu mungkin juga dikarenakan aku tidak menggunakan sleeping bag untuk tidur diatas tanah yang berbatu. Setelah selesai beberes, kami memasak di diluar. Niat kami pada pagi itu adalah memasak mie goreng dengan bumbu yang dibawa Anja. Kami sudah merebus dan juga sudah meniriskan airnya. Tapi ketika kami menggoreng mie tersebut, Anja mengeluarkan bumbu yang berwarna merah. Tata dan Dina langsung bertanya “itu pedes ya? Kalo pedes jangan.” Akhirnya kami hanya menaruh sedikit bumbu yang dibawa Anja tadi. Kami menambahkan banyak sekali margarin, dan garam secukupnya. Tapi sepertinya garam yang kita taruh tidak pas, jadi mienya agak terlalu asin. Tapi berhubung pagi itu kami lapar, kami memakannya dengan senang hati. Setelah kami menghabiskan mie asin, teman-teman masih lapar. Jadi, kami membuat roti bakar. Di regu EdelBangkai, kami membawa banyak roti, jadi hampir semua regu dapat memakan roti bakar yang kami buat. Setelah memasak, kami disuruh untuk bersiap-siap dan berkumpul untuk ice breaking.
·      Belajar Tentang Menejemen Perjalanan
Kami memainkan sebuah permainan tentang konsentrasi untuk ice breaking. Sesudah bermain, kami dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompokku mendapat pelajaran tentang menejemen perjalanan pertama.
Point-point yang kudapatkan dari pelajaran Menejemen Perjalanan:
Menejemen meliputi
§  Program
§  Kurikulum
§  Pembiayaan

Tahapan menejemen perjalanan:
§  Perencanaan/planning
Ø What: Apa yang akan kita lakukan?
Ø Where: Kemana kita akan pergi?
Ø When: Kapan kita berangkat?
Ø Who: Dengan siapa kita akan pergi?
Ø Why: Mengapa kita harus pergi?
Ø How: Bagaimana caranya kita bisa pergi?
§  Persiapan
Ø Mental dan fisik
Ø Barang-barang:
v Perlengkapan dasar:
ü Layering system
ü Sleeping system
ü Sheltering system
v Perlengkapan khusus
v Peralatan tambahan
Ø Pelaksanaan (penentuan barang)
v Barang-barangnya harus terstruktur
v Membuat itinerary
§  Evaluasi
§  Layering system:
Ø Base layer (kaos)
Ø Soft shell (jaket, sweater)
Ø Hard shell (wind stopper)
§  Sheltering system:
Ø Tenda (pasak, frame, outter, inner)
§  Sleeping system
Ø Sleeping bag (polar, bulu angsa, Dacron)
Ø Matras
§  Tidak dianjurkan mendaki gunung menggunakan kaos berbahan katun, sebab kaos berbahan katun dapan menyerap keringat dan susah kering. Bahan yang dianjurkan adalah kaos berbahan Polyester
§  Packing:
Ø Barang yang paling berat akan ditaurh paling atas carrier.
Ø Barang yang ringan akan ditaruh paling bawah carrier.
§  Trekking:
Ø Saat jalan, sebisa mungkin tidak memakai jaket karena jaket akan dipakai saat malam untuk tidur. Jika basah, jaket akan menjadi dingin, dan tidur kita menjadi tidak nyenyak.
Setelah belajar teori, kami mempraktekan bagaimana cara packing untuk mendaki gunung. Menurutku, aku, Yla, dan Dinda bagus juga packingnya.


·      Belajar Jungle Survival dan Tumbuhan yang Ada Di Hutan
Sehabis kami mempraktekan bagaimana packingnya, kami bergantian dengan kelompok yang satu lagi untuk mempelajari Jungle Survival.
Point-point yang aku dapatkan dari pelajaran jungle survival:
§  Jungle survival adalah bertahan hidup dihutan
§  Jikalau kita hilang di hutan, kita harus STOP!
Ø Sit
Ø Think
Ø Observase
Ø Plan
§  Teknik jungle survival
Ø Step 1: First Aid
v Mengobati luka-luka dan istirahat
Ø Step 2: Bivaking (membuat shelter)
v Alam: Gua atau pohon
v Buatan: Flysheet atau jas hujan (ponco)
Ø Step 3: Membuat api
v Api dapat menghangatkan kita
v Api dapat melindungi kita dari binatang-binatang buas.


Ø Step 4: Mengumpulkan air
v Jikalau sungai atau air terjun jauh dari tempat kita berada, kita bisa menggunakan tebu dan akar.
v Kita juga dapat menggunakan daun sebagai sumber air, dengan cara mengikatkan plastic pada daun. Nanti lama kelamaam, daunnya akan berembun dan airnya dapat kita minum.
Ø Step 5: Skill mencari makan
v Tumbuhan:
o  Ciri-ciri: tidak berebulu,  warna tidak mencolok, tumbuhan yang sering dimakan binatang juga.
v Binatang:
o  Ciri-ciri: tidak memakan bangkai, tidak langka
Ø Step 6: SOS
v Contoh SOS: asap, kaca yang dipantulkan sinar matahari, meninggalkan jejak, meniup peluit
Setelah aku belajar bagaimana cara bertahan hidup di hutan, waktunya kami belajar penyakit-penyakit yang sering dialami di gunung.
Point-point yang aku dapatkan dalam belajar penyakit-penyakit yang sering dialami orang saat mendaki gunung:
§  Kram
Ø Jikalau ototnya sudah keras, sakit, dan tidak dapat menggerakan organ yang terkena kram, kita harus mengurut/memijat ototnya kea rah yang berlawanan.
§  Dehidrasi
Ø Kalau sudah pucat dan tidak semangat, lalu dia tidak berkeringat tetapi tubuhnya panas, kita harus membuka bajunya, masukan baju ke air, lalu dipakai. Jangan langsung masukkan orangnya ke air, karena bisa membuat orangnya struk dan bisa fatal.
§  Hipotermia
Ø Sudah tidak menggigil, kulitnya dingin, langsung berikan dia minuman dan makanan yang hangat, bersama baju, sleeping bag yang hangat.
§  Mountain sickness
Ø Pusing, lelah, mual. Jika itu terjadi, beristirahat sebentar, meluruskan kaki, dan minum.
Ø Jika mual, dikasih minyak kayu putih atau minyak angin
Ø Jika muntah, istirahat dan diberi minuman hangat.
Setelah selesai mempelajari penyakit-penyakit yang sering dialami oleh orang-orang saat mendaki gunung, kami belajar tentang tumbuhan-tumbuhan yang ada di hutan.
Point-point yang kudapatkan saat mempelajari tumbuhan-tumbuhan di hutan:
§  Babadotan
Ø Gunanya: menyembuhkan luka dan menurunkan demam.

§  Kiurat
Ø Gunanya: menyembuhkan pegal-pegal dengan merebus daunnya, lalu minum airnya.
§  Harendong
Ø Gunanya: buahnya dapat dimakan
§  Antana
Ø Gunanya: menyembuhkan sembelit
§  Kumis Kucing
Ø Gunanya: menyembuhkan kancing manis
§  Kecubung
Ø Gunanya: untuk asma dengan cara mengirup bunganya.
§  Daun Dadap
Ø Gunanya: untuk menurunkan demam
§  Leunca dan Takokak
Ø Gunanya: hampir sama dengan kecubung
§  Ganyong
Ø Gunanya: dapat dimakan

·       Curug yang Sangat Indah
Setelah kami belajar tentang tumbuhan-tumbuhan, kami kembali ke tenda dan bersiap-siap ke curug. Kami hanya disuruh bawa prusik dan botol minum.  Perjalanan dari tenda sampai curug kurang lebih 10 km. Aku yang menderita penyakit sinusitis, tiba-tiba pernafasannya terganggu. Aku tidak kepikiran akan kambuh ditengah jalan. Aku lupa membawa buff juga untuk menutup hidungku. Jadi dengan sekuat tenaga, aku terus mendorong diriku sampai curug. Aku sangat berterima kasih kepada teman-teman yang sudah mau membantuku dan menungguku saat aku sedang kelelahan. Terkadang aku sangat benci dengan penyakitku. Coba aku tidak memiliki penyakit ini, aku dapat ke curug dengan sangat bahagia tanpa lelah yang berlebihan. Untungnya aku memiliki teman-teman regu yang baik yaitu Tata, Katya, Anja, Yla, dan Dinda. Sesudah mendaki batu-batu dengan susah payah, akhirnya kelelahanku mendaki tadi dibayar dengan pemandangan yang indahnya luar biasa. Ada 2 air terjun besar dan beberapa lagi yang kecil. Di bawah air terjun yang besar, ada kolam kecil yang kedalamannya 4 meter kalau aku tidak salah. Sayang aku tidak membawa baju dalam. Aku ingin sekali berenang di tempat yang dalam itu. Airnya sejuk, bisa dibilang dingin. Sangat segar membasuh diri yang berkeringat setelah mendaki 10 km dengan air sejuk itu. Aku, Katya, dan Anja hanya duduk di batu dan merendamkan kaki di air yang dingin itu. Setelah beberapa lama kami main di air, kami harus kembali lagi ke tenda untuk mempersiapkan barang-barang kami untuk pulang.

·      Sepatu yang Basah Kuyup
Kami turun dari curug dengan sangat berhati-hati, dan akhirnya kami sampai di tenda. Peralatan masak kami masih diluar belum kami bereskan. Kami langsung masuk tenda, lalu membereskan tas kami. Belum selesai membereskan tas, kami ternyata sudah disuruh makan. Tapi karena tenda masih berantakan sekali, kami makan bergantian. Aku dan Yla memakan bersama. Aku hanya makan 2 suap saja yang lainnya 4-6 suap. Wah,sebetulnya enak sekali nasi liwet bikinan kakak-kakak Pembina, tapi sayangnya tenda kami masih sangat berantakan, dan kami hanya punya waktu sebentar untuk membereskannya. Tidak lama setelah kami makan, hujan turun dengan deras. Kami masih membereskan tenda kami yang berantakan. “ya ampun ni tenda, nggak beres-beres sih???” pikirku yang sudah lelah melihat tenda yang sungguh amat sangat berantakan. Beberapa saat kemudian, akhirnya tenda kami bersih juga. Barang-barang pribadiku yang kurang hanyalah matras yang sudah penuh lumpur di luar tenda. Setelah semua beres, kami masih didalam tenda sambil berteduh. Kami mengobrol-ngobrol, bernyanyi-nyanyi, ketawa-ketawa, dan hal-hal lain yang seru. Tiba-tiba Katya keluar untuk membereskan matrasnya. Aku melihat dia kesusahan dibawah hujan, akhirnya aku membantunya menggulung matrasnya. Aku bergegas mengambil jas hujan, dan langsung memakai sepatuku. Baru satu langkah aku berjalanan, sepatuku langsung masuk ke lumpur. “Yah, basah deh…” teriakku dan langsung disambut dengan tawaan teman-teman. Aku membantu Katya menggulung matrasnya (atau bisa dibilang “yoga mat”nya) sambil hujan-hujanan. Ada beberapa anak cowok yang hujan-hujanan juga. Aku dan Katya masih tetap diluar setelah berhasil menggulung matrasnya. Kami berteduh dibawah flysheet milik Dinda yang ditaruh diatas tenda. Tidak lama kemudian, Dinda keluar dan menghampiri kami. Ternyata dia mau melipat flusheetnya. Aku membantunya, ternyata melipat flysheet sampai kecil itu susah ya…  Setelah melipat flysheet, aku menemani Anja ke toilet. Sepatu ku yang tadinya basah, menjadi lebih basah. Sampai bunyi sepatuku “cekrot, cekrot” saat aku berjalan. Sangat tidak nyaman, tapi pada saat itu, aku tidak begitu keberatan. Seru sekali soalnya. Setelah aku mengantar Anja, kami kembali ke tenda yang sudah dibongkar.  Ketika aku menaiki tanah yang licin, aku ditanyai sesuatu dengan Katya, jadi aku tidak focus pada jalanan yang aku injak. Aku terjatuh pada saat Katya menanyaiku. Celanaku penuh lumpur, untungnya aku langsung menjaga keseimbangan jadi aku tidak jatuh tengkurap di atas lumpur. Aku lansung bangun, lalu menghampiri teman-teman yang sedang membongkar tenda dan menghitung pasak. Aku melepas tas dari gendongan, lalu mengambil handuk, dan langsung membersihkan celanaku. Tiba-tiba Dhifie datang dan meraih tasku. Aku melihatnya dengan bingung lalu langsung paham karena dia juga membawa tasnya Dinda.Tas kami ditaruh di pos dekat camping ground. Setelah kami membongkar tenda, lalu menghitung pasak, kami sudah siap pulang. Kata Kak Elly, karena kami terlambat, kami harus berjalan sampai sekolah di jalan raya. Kemarin, saat kami datang, kami diturunkan di parkiran. Dari parkiran saja sudah jauh, bagaimana dari sekolah dekat jalan raya?  Akhirnya, kami turun ke pos, lalu mengambil tas kami. Kami mengatur barisan, lalu kami berangkat.
·       Waduh, Tidak Ada Minum?
Kami turun ke parkiran dengan cepat. Di parkiran, kami sempat berfoto dulu sekalian beristirahat. Setelah kami berfoto, kami meneruskan perjalanan lagi. Jalanan dari tempat parkir ke sekolah sangat menanjak jadi aku sangat lelah. Setelah kami melewati jalan yang sangat menanjak, kami akhirnya sampai juga di tempat angkot parkir. Aku langsung menaruh tasku, dan beristirahat. Aku sangat haus, jadi aku meraba-raba sisi kanan dan kiri tasku. Tapi ternyata, botol minumku kosong! Wah,aku sangat kelelahan pada saat itu dan sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Tiba-tiba Katya memanggilku, dan menyuruhku masuk ke dalam angkot. Setelah menunggu yang lain masuk, kami akhirnya berangkat!
·       Bermain Truth or Truth Di Angkot
Selama perjalanan, Katya tertidur dengan pulas. Pada saat itu, posisinya kurang enak, tapi aku merasa tidak enak membangunkannya karena sepertinya enak sekali tidurnya. Tiba-tiba Katya terbangun, dan kami bermain Truth or Truth. Peserta yang ikut main antara lain: aku,  Yla, Ceca,  Katya, Fattah, Adam, Tata, Dilan, dan Naufal. Kami bermain dengan seru, sampai tidak terasa sudah sampai di stasiun bogor. Kami turun dari angkot, lalu mengambil tas masing-masing. Setelah itu, kami berkumpul, dan mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih kepada Kak Elly dan Kak Adi. Aku langsung dijemput oleh papa, dan yang lainnya berjalan bersama naik kereta.  Aku langsung makan di mobil, lalu ketika sampai rumah, aku langsung mandi dan tertidur dengan sangat pulas. Ya, keesokan paginya, badanku sakit semua :’)

Pengalaman yang paling berkesan untukku adalah pada saat reguku bercerita-cerita di tenda saat tengah malam.

Aku sangat berterimakasih untuk semua kakak-kakak fasilitator dan kakak-kakak Pembina. Jangan kapok ngajarin kita ya kak, seru kok kakak-kakak Montana!




 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar