Langsung ke konten utama

Postingan

Movie review Survival Family

Oke, jadi secara garis besar, film ini menceritakan sebuah keluarga kota yang tinggal di Tokyo dan seperti banyak keluarga kota lainnya, mereka jarang berinteraksi satu sama lain. Bahkan ayah yang memiliki 2 anak ini seperti tidak punya waktu untuk mereka, sementara ibu mereka sangat perhatian, tapi tidak digubris oleh anak-anaknya yang hanya mementingkan gadget mereka. Pada suatu hari, terjadiah pemadaman listrik di dunia yang membuat keluarga kota ini kebingungan. Mereka tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari mereka yang sudah sangat dibantu oleh teknologi dan listrik. Mulai dari transportasi sampai mencari berita, semuanya tidak ada yang bisa dipakai. Mereka terlihat sangat kesusahan tanpa listrik. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari Tokyo dan mengungsi ke desa dimana tempat ayah dari ibu keluarga ini tinggal. Dikarenakan kereta yang biasa mereka gunakan untuk berpegian adalah kereta listrik, mereka terpaksa melakukan perjalanan dengan sepeda, dengan bantuan peta ...

Log Book Pramuka 2018 term 2

Ini isi logbook aku selama term ke-2 Pramuka Oase 2018.

Laporan Keuangan Regu De Dublob

Laporan keuangan Regu Dublob Belanja Sayur dan Bumbu dari rumah: Ratri : Rp. 48.000 Anja : Rp.  25.000 Ceca : Rp. 17.000 Andini : Rp. 1.000 Total   : Rp. 130.000 Beli keperluan di Pulau : Di P. Untung Jawa Kelapa 2 : Rp. 40.000 Belanja di P. Pramuka Bakso mentah 15 biji : Rp. 15.000  Telur 8 butir : Rp. 20.000  Air minum : Rp. 6.000  Makan siang : Rp. 68.000  Beli sarapan di pelabuhan P. Pramuka : Rp. 20.000 Total : Rp. 129.000 Total semua uang yang dipakai : Rp. 490.000 Jadi setiap orang dapat uang Rp. 98.000

Day 5: Bye Kepulauan Seribu!

Seperti biasa, pagi itu kami dibangunkan oleh Kaysan untuk subuhan. Hari itu aku benar-benar tak ingin bangun, karena anginnya sedang kencang dan itu membuatku menjadi mager. Bangun-bangun, Adinda langsung mengeluh padaku karena katanya aku menendang kepalanya. Tak kebayang bagaimana posisiku, tapi hal itu sebenarnya bisa terjadi sih. Aku yang mengungsi di tenda Regu Putri Do-Young memutuskan untuk bangun dan mengecek reguku. Wah, ternyata Anja sudah bangun dan sudah mengamati komporku. Ternyata dia bingung cara mengeluarkan gas dari kompor itu. Melihatnya, membuatku geli karena cara dia mengamati kompor, seperti mengamati serangga yang sudah sangat langka. Setelah puas menertawakan Anja (aku ketua yang buruk), aku akhirnya membantunya mengeluarkan gas. Untuk memulai hari, aku membereskan flysheet, matras, dan tali jemuran reguku. Dan hari itu aku harus melakukan kegiatan yang paling aku benci. Bukan hanya pulang, tapi harus packing ulang. ARGH sangat merepotkan! Karena buatku pack...

Day 4: Makan Pasir?!

Hari ini kami akan bersenang-senang!!! Untuk memulai keasyikan hari ini, kami harus memasak dulu untuk sarapan. Pertamanya, kami berniat untuk memasakn capcay. Tapi ternyata semua sayuran yang kami bawa dari rumah sudah basi! Satu-satunya sayuran yang selamat adalah kentang. Untungnya kami punya juru masak yang hebat dan kreatif yaitu Anjaaa!!! Anja dengan sigapnya mengolah kentang-kentang tadi, menjadi kentang goreng yang gurih dan lezat sekali. Aku mencoba membantu Anja menggoreng kentang, tapi tanganku malah kesiram minyak panas. Untung ada obatnya Kaysan, jadi tanganku baik-baik saja. Karena masakannya Anja enak sekali, hampir semua anak dari kelompok lain meminta kentang gorengnya. Setelah sarapan, kami pergi jalan mengelilingi Pulau Karya. Pulau Karya bukanlah pulau yang besar, menggampangkan kami untuk mengelilingi pulaunya. Kami berjalan diatas pembatas yang terbuat dari semen, tapi pembatasnya putus-putus. Jadi kami harus turun ke laut sedikit, lalu naik keatas jalan lagi. S...