Sabtu, 23 September 2017

Janssen van Heins (3)

Sudah hampir sebulan Janssen tinggal bersamaku, dan tidak satu hari pun aku merasa bosan dengannya. Nah, pada suatu siang aku janjian dengan temanku didekat rumah. Didekat rumahku terdapat ruko-ruko kosong (belum laku dijual) dan ruko-ruko tersebut dipakai oleh orang-orang dekat situ untuk berolah raga dan untuk nongkrong. Aku dan temanku mengobrol dengan asik di depan salah satu ruko. Setelah hampir 2 jam kami mengobrol, aku dan temanku merasa lapar karena kami berdua belum sarapan. Akhirnya kami memutuskan untuk makan dirumahku. Di rumah, papa dan mama pergi mengantar adik les. Jadi di rumah hanya ada aku dan temanku itu. Kami mengobrol-ngobrol agak lama, sampai akhirnya aku merasa kepanasan karena memakai celana jeans panjang. Akhirnya aku memutuskan untuk mengganti celanaku dikamar. Tapi ternyata teman-temanku mengikutiku ke kamar, ya aku membiarkan saja mereka pergi ke mana saja mereka mau. 

Saat aku memasuki kamar, aku mendapatkan Janssen sedang berdiri di samping tempat tidurku. Aku hanya tersenyum melihatnya yang juga tersenyum ke arahku. Sepertinya temanku meliatku senyum-senyum sendiri, dan dia langsung bertanya padaku "Nite, apakah kamu melihat sesuatu?" Aku tidak ingin membuatnya ketakutan denganku, jadi jawabanku hanya sebuah gelengan. Tapi sayangnya, Janssen ingin membuat temanku tau bahwa sebenarnya ada dia di ruangan yang sama dengan kami. Jadi dia menyibakkan gorden kamarku yang penuh debu itu. Temanku langsung kaget, mimik mukanya ketakutan bahkan aku melihat kakinya bergetar. Aku berusaha menenangkannya dengan berkata "tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik aja. Betul! Aku serius, tidak ada apa-apa" Tapi sepertinya temanku ini mengetahui aku dengan sangat baik, jadi dia tau bahwa aku ini berbohong. Aku melihat ke arah Janssen dengan tatapan sinis, supaya dia tau bahwa aku betul-betul marah kepadanya.

Temanku langsung berlari keluar rumah, sambil menangis. Hari itu aku sedang sangat bosan dan kesepian, jadi aku tidak mau temanku ini cepat pulang. Aku terus menenangkannya dengan berkata "tidak ada apa-apa, semuanya akan baik-baik saja". Tapi tetap saja dia tidak mendengarkanku. Janssen yang merasa bersalah, mengikutiku ke luar dan berdiri di ambang pintu dengan bibir yang tertekuk dan kepala yang menunduk. Temanku berlari masuk kedalam rumah (dia hampir saja menabrak Janssen, untung Janssen langsung mundur) dan langsung menyambar tasnya diatas sofaku. 

Temanku langsung memesan grab tanpa berkata apapun kepadaku. Grabnya saja belum sampai, tapi dia sudah keluar gerbang. Aku sudah tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, jadi aku biarkan saja. Tapi aku benar-benar ingin tau, apakah dia segitu takutnya denganku? Jadi aku bertanya "Sebegitu menakutkankah aku ini di matamu?" Dia hanya menatapku dan menggeleng dan mengangguk di saat yang bersamaan. Hatiku langsung hancur, dia lah sahabat yang menurutku begitu istimewa. Dan sahabat yang istimewa bagiku ini takut denganku. 

Setelah menunggu sedikit lama di depan gerbang, dan kami bahkan tidak mengobrol satu patah kata pun, akhirnya grab yang sudah dipesan temanku datang juga. Dia dengan buru-buru naik ke motor dan jalan begitu saja.

Aku merenungkan diri sejenak. Apakah aku ini benar-benar freak? Kenapa aku seperti ini? Sepertinya aku tidak layak mendapatkan teman, aku akan menakuti semua temanku. 

Aku masuk ke dalam rumah, ditemani dengan arwah seorang remaja laki-laki yang tinggi dan sebetulnya adalah seorang penyayang. Aku duduk dilantai, walaupun ada sofa besar dibelakangku. Aku menatap Janssen, dan berkata "Why did you do that?" dengan nada yang kecewa sekaligus marah. Setelah mendengar pertanyaanku, dia langsung menatap lantai dengan sorot mata yang kosong dan menyesal. Karena aku begitu marah, aku mengulangi pertanyaanku. "I said WHY DID YOU DO THAT JANSSEN? WHY?!" sekarang dengan nada yang betul-betul marah. Janssen terkejut dan akhirnya berani menatapku. Dia hanya berkata "I'm sorry nite, I didn't mean to do that". "You didn't mean to do that?! So why did you smile when you pushed the curtains?" kataku yang sedang emosi. Janssen, seorang yang humoris dan mengetahuiku dengan baik langsung berkata "Nite, you were funny when you saw your friend get scared". Dan aku seorang yang gampang ketawa langsung tertawa kecil mendengar pernyataannya itu. Janssen melihatku tertawa, dan merasa berhasil menghiburku. Dia tersenyum, lalu duduk disebelahku sambil menatap wajahku. Dia berkata "Nite,I'm so sorry for what I've done to you. I will not do that again, I promise you". Mendengarnya, aku langsung tersenyum. Fuuh, untung sayang. Aku menjawab "Okay, I forgive you. But are you sure, you promise to not do that kind of thing again?" dan langsung dijawab dengan sebuah anggukan dari Janssen van Heins.






Fyuh, aku ngebut nulis blogku yang satu ini. Udah lama banget nih nggak upload.
Oh ya temen-temen, ceritaku tentang Mr. van Heins yang satu ini belom selsai lho..
Tungguin yaa ❤
Salam, Minuit 👊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar