Selasa, 24 Juli 2018

Day 2: Bersosialisasi yuk?

"Aduh ini gimana sih nyalainnya?!!" tanya Andini pada jam 4.00 pagi. Aku yang masih tergeletak di lantai menatap Andini dengan tatapan lelah. Aku sudah bilang "ditepok dulu itunya", tapi tetap saja Andini tidak bisa menyalakan lampu kamar mandi. Jadi dengan berat hati, aku bangun dan membantu menyalakan lampu kamar mandi untuk Andini. Ya walaupun abis itu aku tidur lagi sih.

Selama teman-teman sholat shubuh, aku, Tata, dan Ceca menunggu di kamar Tata sambil ngobrol-ngobrol. Tak lama setelah teman-teman selesai sholat, kami bersiap-siap untuk sarapan! Pagi itu saat aku dan teman-teman sereguku sampai di warung makan, kami melihat teman-teman yang sudh sampai pada ketawa ngakak dan ribut. Karena ingin tau, aku bergegas lari ke dekat mereka. Ternyata botol minum Fakhri menciut saat dituangkan teh panas didalamnya HAHAHAH. Melihatnya, aku langsung tetawa terbahak-bahak. Sumpah itu lucu banget! Setelahnya, kami makan dengan waras dan tidak ada apa-apa. Jadi setelah kami makan, kami kembali ke penginapan untuk mempersiapkan keberangkatan kami menuju Pulau Rambut untuk pengamatan lagi. Yeaaay.

Akhirnya pukul 07.00 pagi, kami berangkat ke Pulau Rambut!!! Sesampainya disana, bapak penjaga pulaunya belum dateng, jadi kami main-main dulu di pantai. Ali dan Fakhri bahkan sudah basah kuyup! Aku bisa merasakan betapa dinginnya nanti ketika mereka menyusuri pulau dengan bajunya yang basah kuyup itu. Aku cukup bisa menahan diriku untuk tidak nyemplung, karena aku terlalu mager untuk membereskan baju basahku heheh.

Kami mulai menyusur pulau sekitar jam 08.30 pagi. Kami menggunakan sepatu boots kami untuk melindungi kaki saat berjalan diatas karang-karang mati yang akan sering kami temukan dijalan. Saat berjalan, hal pertama yang aku temukan adalah sampah, kemudian sampah, dan sampah. Banyak sekali sampah yang bertebaran disana!

Dalam perjalanan, ada kalanya kami masuk sedikit ke laut karena jalannya dipenuhi dengan tanaman bakau. Air lautnya masuk ke sepatu boots kami! Duh sangat tidak nyaman saat berjalan. Adinda sangat beruntung karena sepatu bootsnya tinggi jadi air laut tidak masuk ke dalam sepatunya. Sebenarnya kami bisa agak manjat-manjat pohon bakau sedikit untuk menghindari air. Tapi cukup sulit karena sepatu boots kami yang besar kadang susah dikontrol.

Hal menarik pertama yang kulihat adalah Elang Laut Perut Putih yang dengan anggunnya bertengger di sebuah pohon. Melihatnya, kakiku langsung lemas. Kenapa aku tidak membawa kameraku???!!!! Untungnya Kaysan membawa kameranya. Tapi ketika kupinjam, hasilnya malah jelek banget. Aku memang tidak terbiasa memakai kamera selain 60D dan Eos-M yang aku punya. Aku menghabiskan waktu disana cukup lama karena sangat mengagumi sosok elang tersebut.

Tak jauh dari elang, kami melihat ada seekor anak Pecuk Padi Hitam yang tergeletak di pasir. Sayap sebelah kanannya patah dan dia sudah sekarat. Kak Ali memindahkannya ke atas sebatang bambu supaya paling tidak, dia tidak terkena air yang membuatnya kedinginan. Melihat matanya membuatku merasa tidak tega untuk meninggalkannya dengan kondisi yang sekarat seperti ini.

Mau tak mau kami harus melanjutkan perjalanan kami, jadi terpaksa kami meninggalkan anak Pecuk Padi Hitam itu sendirian. Lalu, aku melihat teman-teman sedang berkumpul memperhatikan sesuatu yang dipegang oleh Ali. Aku merasa penasaran, jadi aku ikut nimbrung. Ternyata itu adalah timun laut! Sepertinya sih itu termasuk binatang, badannya kenyal dan tidak memiliki tulang, dan juga berlendir. Jujur saja, aku agak jijik untuk memegangnya, tapi karena penasaran, aku menyentuhnya sedikit. Dan langsung menyesal, hiks.

Tak lama dari tempat kami melihat timun laut, aku diberitahu oleh Alevko bahwa ada anggur laut yang bisa dimakan. Alev mengambilkannya untukku, rasanya seperti telur salmon tapi bedanya, anggur lautnya sangaaaat asin. Dan after-tastenya itu amis, bikin eneg.

Ditengah perjalanan, kami juga mengambil beberapa ikan gabus! Kami menemukannya di tengah-tengah batang bambu. Ternyata disana tempat mereka bersembunyi! Kami mendapatkan banyaak sekali ikan gabus. Kami membawanya kembali ke tempat kita berkumpul tadi pagi, untuk membakarnya.

Setelah hampir 3 jam kami menyusuri pulau, kami akhirnya kembali ke titik kumpul!! Disana kami langsung beristirahat karena perjalanan tadi sangat melelahkan. Aku langsung membuka sepatu bootsku dan menjemurnya dibawah sinar matahari yang sedang terik pada waktu itu.

Ketika sedang beristirahat, Kaysan dan Alevko memiliki ide untuk mengubur mereka di pasir. Dengan senang hati, kami langsung bergerak dan membuat mereka tertutup dengan pasir. Aku cukup kasian dengan mereka karena muka, mulut, dan telinga mereka juga ikutan penuh dengan pasir. Alevko sampai tidak bisa berbicara, hahahah.

Saat kami sedang mengubur Kaysan dan Alev, Andini dan Kak Ali menyiapkan makan siang. Mereka membakar ikan-ikan yang sudah kami tangkap tadi. Memang mereka tidak pernah kehabisan akal. Dan ketika sudah jadi, kami yang perutnya kelaparan langsung mengembat ikan-ikan yang tadi dibakar. Enak juga ternyata, padahal tidak dibumbui lho!

Kami juga makan siang disana. Bapak yang menjual makanan di Pulau Untung Jawa, membawakan kami makan. Ditambah dengan ikan bakar yang nikmat tadi, makan siang kami pada hari itu komplit!

Setelah menikmati makan siang, kami pikir ini adalah waktunya untuk leyeh-leyeh di hammock sambil memandang pantai. Tapi sepertinya Kak Shanty tidak dalam satu pemikiran dengan kami. Tiba-tiba Kak Shanty bangun dan bilang "Yok, udah kenyang kan? Waktunya bersih-bersih pantai!". Dengan lemahnya aku dan Katya menjawab "Tidaaaaaaaaaakkkkk" sambil berbaring.

Akhirnya kami membuat kesepakatan. Kalau Andini menyetujui kegiatan ini, kami akan membersihkan pantai. Tapi kalau Andini tidak menyetujuinya, kami bisa leyeh-leyeh kembali.

Dan waktunya telah tiba, Andini datang kemari dengan ekspresi bahagia di mukanya. Langsung, tanpa basa basi kami tanya kepada Andini. Sayangnya jawaban Andini tidak sesuai perkiraan. Ia menyetujuinyaaaaa!!!! *nangis*

Dengan berat hati, kami bangkit setelah diberikan kantong sampah oleh Kak Shanty. Mana hari itu lagi panas-panasnya pula. Duh, memang dunia ini tidak adil. Tapi kalau dilihat-lihat, memang banyak sekali sampah di Pulau Rambut. Apalagi styrofoam, sendal, dan plastik. Melihatnya membuatku sedih. Aku sampai mual kalau melihat bungkus p*pmie lagi. Ingin rasanya aku bakar semua p*pmie yang dijual.

Eh, tidak terasa hampir semua kantong sampah yang kami bawa sudah penuh! Dan sepertinya tidak membuahkan efek apapun kalau melihat pantainya. Benar-benar kalau masih banyak sampah yang diproduksi, pantai tidak akan dipenuhi dengan pasir. Tapi pantai akan dipenuhi dengan SAMPAH. Jadi guys, plis stop makan p*pmie, bawa tempat makan selalu, dan jangan beli makanan yang berkemasan kecuali daun.

Akhirnya selesai!!! Kami menyelesaikan kegiatan terakhir kami di Pulau Rambut. Aku berjanji pada diriku bahwa aku akan kembali. Pasti akan kembali, dengan membawa kameraku hehe. Kami kembali ke Pulau Untung Jawa pada pukul 15.30 dan langsung ambruk di tempat tidur. Kami istirahat sebentar sebelum melanjutkan tugas berikutnya yaituuuuu, wawancaraaa!!

Lagi dan lagi kami pasti punya tugas untuk berkenalan dengan seseorang. Sore itu, aku dan teman-teman berjalan ke desa yang ada di pulau. Desa ini cukup ramai, dan dipenuhi dengan warna-warna untuk menyambut Asian Games 2018. Banyak sekali anak kecil yang sedang bermain bersama temannya, ada banyak es kepal milo juga disini! Aku cukup terkejut dengan keberadaan es kepal milo di pulau ini.

Aku dan teman-teman sudah hampir mengelilingi pulau, dan masih belum mendapatkan orang untuk diwawancarai. Untungnya ketika kami sudah hampir menyerah, ada anak-anak yang kelihatannya baru pulang sekolah. Awalnya ragu, tapi demi kebaikan nusa dan bangsa, aku menyapa mereka. Mereka sangat ramah, kami berbincang tentang sekolah, hobi, sampai akhirnya salah satu anak bilang "Kak yok kita main bareng. Tunggu ya, aku ganti baju dulu" Dengan senang hati, aku menyetujui permintaannya.

Akhirnya aku, Katya, dan Andini berjalan bareng ke RPTRA untuk mengobrol disana. Sayangnya mereka malu-malu dengan aku, jadi tidak banyak informasi yang bisa kudapatkan. Tak lama setelah itu, kami melihat ada anak-anak remaja yang sedang berjalan sambil menyanyikan lagu "Anpanman" dari BTS. Tanpa basa basi, aku langsung memanggil mereka. Ternyata mereka anak-anaknya seru!!!

Kami berkenalan dengan 3 anak remaja. Yang pertama, namanya Srikanti. Aku dan dia banyak sekali kesamaan. Seperti umur kami yang sama-sama 14 tahun, lalu kelakuan kami yang sama-sama tomboy. Yang satu lagi namanya Deka. Ia juga banyak kemiripan denganku. Pertama, kami berdua sama-sama suka K-Pop. Kedua, kami berdua sama-sama cerewet dan tidak bisa diam. Ketiga, kami berdua biasnya Taehyung!!! Nah, satu lagi namanya Suci. Aku dengannya tidak banyak kemiripan, tapi dia dan Katya sama persis! Malu-malu didepan orang baru dan suka menggambar.

  Foto: Kak Shanty

Ketika kami sedang asyik mengobrol, Fattah dan Hibban tiba-tiba datang dan menyapa kami. Aku memperkenalkan teman-teman baruku kepada mereka. Entah bagaimana, Srikanti keceplosan dan berkata bahwa Fattah ganteng. Dengan spontan aku langsung tertawa terbahak-bahak. Lalu aku memancingnya dengan bilang "Ada yang lebih ganteng lho di penginapan". Dengan cepat, Deka langsung bertanya kepadaku, apakah aku berteman dengan laki-laki yang memakai carrier berwarna biru dan badannya tidak terlalu tinggi. Oh ya, katanya rambutnya juga gondrong. Pertama aku pikir mereka membicarakan tentang Alevko. Ternyata tidak! Mereka membicarakan tentang Fakhri!!

Mereka bahkan meminta untuk ikut mengantar kami balik ke penginapan hanya untuk melihat Fakhri. Dalam perjalanan, kami membicarakan tentang lagu-lagu BTS terbaru dan bias kami masing-masing. Ketika kami sampai di penginapan, kami melihat banyaaak sekali anak-anak perempuan yang sedang teriak-teriak kegirangan didepan deretan kamar kami. Sekilas aku mendengar ada yang teriak "BOWOOOO". Aku sangat bingung pada saat itu. Emang ada gitu, anak oase namanya bowo? Itu yang terus berada di pikiranku.

Yaampun ternyata, mereka memanggil Fakhri dengan panggilan "Bowo". Why gitu lho??? Teman-teman yang laki-laki sampai susah-susah menarik Fakhri keluar untuk bertemu dengan fans-fansnya ini. Sayangnya teman-teman baruku tidak bisa lama-lama, jadi kami berpisah setelah foto. Tapi, anak-anak perempuan lainnya masih pada disini.

Awalnya aku kira tidak akan lama, tapi kok pas sholat magrib masih pada disini. Sampai akhirnya mereka kami ajak makan malam bersama. Tak lama setelah mereka menghabiskan makannya, ada bapak-bapak memakai sepeda, memanggil anak-anak itu. Ternyata mereka kena omelan. Aku merasa sangat bersalah untuk mereka.

Dan seperti malam-malam sebelumnya, malam ini kami tutup dengan refleksi dari kakak-kakak mentor tersayang. AND WE ARE READY FOR THE NEXT ADVENTURE!









Kredit Foto: Kak Ali/TeamPixel.Id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar